Tinder? What is this thing?!

Apa sih Tinder itu? Social Media saat ini sedang merajai interest para penduduk ibukota, termasuk saya. Berawal dari “jalan-jalan” di twitter follow salah satu akun standup-comedian dari amrik, ada screenshot obrolannya dengan seseorang menggunakan caption yang cukup bikin penasaran (Udah lupa juga sih apa captionnya)😛. FYI saat itu sudah ada beberapa App yg menawarkan obrolan instant dengan orang asing dengan cara random, dan sudah ada juga beberapa aplikasi dating yang bisa dijadikan pilihan.

Dari situlah atas dasar rasa penasaran, saya coba install app tinder di iPhone. It’s so simple! Kita sama sekali tidak perlu register atau repot-repot melalui proses pendaftaran yg panjang. Tinder menggunakan authentifikasi langsung ke akun facebook kita, dan semua yang ditampilkan di profile tinder kita adalah sesuai persis dengan akun facebook kita. User bahkan tidak diberikan ruang untuk upload foto langsung ke Tinder, semua foto yang digunakan sebagai profile sudah harus ter-upload sebelumnya via facebook. Pendekatan yang sangat smart! karena kecuali orang-orang yang baru bangun dari 50 tahun tidur dalem goa, dapat dipastikan kalo semua orang punya akun facebook😀.

So how’s this tinder app works? Tinder menggunakan lokasi user sebagai dasar pencarian match sesuai dengan range jarak yang user inginkan, selain itu tinder juga menampilkan mutual friends serta kesamaan interest dari usernya. Oleh karenanya, disarankan untuk terlebih dahulu memperbanyak isian “likes” di facebook sesuai interest, untuk lebih mempermudah seseorang mengenal anda.
Lalu apa beda Tinder dengan wechat,  beetalk, okcupid, atau badoo? Untuk saat ini, bisa dianalogikan bahwa beetalk,weechat,badoo dkk adalah friendster, dan Tinder adalah facebook pada saat awal-awal tenarnya facebook. Saat itu hanya orang-orang menengah ke atas yang menggunakan facebook untuk urusan bisnis dan networking. Tentu saja beda dengan saat ini dimana semua orang dari berbagai kalangan sudah menggunakan facebook, mungkin ini jugalah yang akan menjadi masa depan tinder🙂. Well, at least menurut pendapat saya sampai saat ini Tinder masih berisi orang-orang yang kurang lebih background dan pekerjaannya sama dengan saya. Rata-rata wanita yang menggunakan Tinder, bekerja sebagai pegawai swasta, banker, oil n gas, consultant, telco, dokter, pegawai negeri, atau pengacara. Berbeda tentunya dengan weechat, okcupid, badoo yang profesi usernya lebih beragam. Ajaibnya lagi, stereotype yang ada di Tinder adalah foto-foto liburan di luar negeri, seakan-akan belum sah jadi “masyarakat tinder” kalau belum upload foto-foto liburan di negeri orang😀. Sangat berbeda dengan app lain diatas yang sebagian besar foto usernya adalah Selfie menggunakan Camera360 atau aplikasi sejenis lainnya.😛
Kurang lebih seperti itulah app Tinder sesuai pengalaman pribadi saya.
I will share my detailed opinion about my experiences while using this app in my next post. Thanks.😉
Tinder? What is this thing?!

Kecanduan Instagram

Sudah setahun lebih aktif dan ketagihan Instagram. Aplikasi social networking yang menggunakan foto sebagai subyek utamanya. Dari awal main saya menggunakan instagram sesuai fungsi aslinya, mengabadikan moment secara instant dengan caption sesuai yang ada dipikiran kita saat itu. Bisa dibilang seperti mobile diary/scrapbook, seperti itulah awal penilaian saya soal instagram. Setelah hampir setahun menggunakan instagram, sering saya melihat foto-foto orang yang menurut saya mustahil diambil menggunakan kamera iPhone standar, meskipun saat itu sudah ada iphone 4, yang kualitas gambarnya cukup bagus. Ternyata memang trend penggunaan instagram berubah, tiba-tiba penggunaan instagram mulai berfungsi sebagai showcase hasil-hasil karya fotografi orang tersebut yang sebelumnya sudah ditransfer ke iDevice. Perubahan ini bukan tanpa alasan, karena dari sisi software, semakin banyak apps yang tersedia untuk proses edit foto secara langsung di iDevice. Dari sekedar menambahkan watermark ke foto, sampai editing kelas atas yang menggunakan layer dan masking. Berkat banyaknya apps pendukung seperti ini dan kemampuan pemrosesan iDevice yang semakin baik juga, semakin banyak orang yang mengedit hasil jepretan fotonya terlebih dahulu sebelum posting ke instagram. Sebutan yang saat itu ramai digunakan sebagai sindiran adalah Latergram, karena penggunaan instagram sudah serba tidak instant lagi.

 


Awalnya saya tidak suka dengan penggunaan Latergram seperti ini (mungkin karena iri, foto mereka bagus-bagus..) , namun setelah mencoba beberapa kali menggunakan aplikasi edit foto di iPhone saya lama kelamaan jadi suka juga. Beberapa kali upload foto hasil editan apps, terasa sangat puas melihat hasilnya meskipun tetap sedikit yang nge-like, hehehe. Setelah itu mulailah saya membaca hubungan komunitas di instagram. Karena memang ini adalah aplikasi social networking, sudah jadi hal wajib bagi kita untuk saling berinteraksi disini. Gimana caranya?? Yaa saling like dan komen foto lah caranya..! Kemudian saya gabung ke milist pengguna instagram indonesia, iPhonesia. Cukup seru juga,  membernya ramah-ramah, nggak pelit bagi ilmu, dan terasa sekali kekeluargaannya.  Saya banyak belajar dari iPhonesia, mulai cara edit, apps yang biasa digunakan, hingga teknik-teknik fotografi pun juga di share disana.

Saat ini banyak sekali aliran yang ada di instagram, ada streetphotography, HDR, BW, Landscape, Macro, dll sesuai aliran fotografi umumnya. Instagram sudah benar-benar menjadi aplikasi photography tempat dimana fotografer menunjukkan karya-karyanya, tanpa meninggalkan aspek social network nya. Tentunya penggunaan instagram sebagai showcase ini memang tidak berlaku mutlak untuk semuanya, masih tetap banyak pengguna yang setia menggunakan instagram sesuai fungsi aslinya, yaa.. Instant..!!😀

Kecanduan Instagram

Belajar Makro

spidey
Pose laba-laba kecil diambil diatas daun

Setelah beberapa kali melihat hasil foto makro dari beberapa video di Youtube, akhirnya saya memutuskan untuk mencoba belaja memotret makro. Karena memang harga lensa makro tergolong mahal untuk kocek saya, saya mencoba beberapa alternatif untuk tetap bisa memotret makro tanpa perlu membeli lensa yang terlalu mahal.Pertimbangannya adalah, saya sendiri bukan fotografer professional, hanya memotret kadang-kadang saja untuk melepas stres dengan hobby ini. Tentunya sayang jika harus beli lensa yang mahal jika digunakan hanya sekali-sekali saja.

Akhirnya saya menemukan alternatif untuk membuat foto makro tanpa membeli lensa makro. Yang pertama ingin saya coba adalah menggunakan close-up filter sebagai tambahan diujung lensa kamera. Akan tetapi belum lagi sempat mencoba, saya kebetulan membaca artikel yng mengatakan bahwa penggunaa close-up filter untuk makro tidak akan menghasilkan kualitas gambar yang jernih, hal ini dikarenakan prinsip optik dimana penambah jumlah lensa akan mengurangi kualitas dari gambar yang diambil. Alternatif yang kedua adalah menggunakan teknik reverse-lens. Teknik makro ini biasa disebut juga “poor man’s macro”, memanfaatkan lensa kit biasa yang posisinya dibalik sehingga berfungsi sebagai lensa makro.

Yang diperlukan hanyalah reverse ring, untuk memasang lensa kit dalam posisi terbalik. Tapi dalam percobaan pertama, saya langsung menggunakan extension tube, yang berfungsi untuk mengurangi atau memeperkecil jarak maksimal fokus objek ke lensa, sehingga dalam kondisi memotret makro dapat menambah perbesaran atau magnification dari objek itu sendiri.

Test..! Saya coba mengambil gambar makro dihalaman rumah. Hasil gambar yg didapat pertama adalah gambar laba-laba kecil yg ada di tumbuh-tumbuhan. Bisa kita lihat dari hasil gambarnya, bahwa perbesaran efek dari extension tube cukup terasa. Dari percobaan kali ini, kesimpulanannya adalah bahwa memotret makro menggunakan reverse lens cukup susah. Karena tidak ada fokus auto, hanya bisa merubah fokus dengan memaju mundurkan posisi lensa. Belum lagi kondisi angin disekitar saat pemotretan. Sungguh memerlukan kesabaran kestabilan pergelangan tangan yang cukup tinggi.

20120530-022304.jpg
Lalat yang sedang istirahat didedaunan

Biarpun cukup melelahkan, memotret makro dengan reverse lens cukup menyenangkan, beberapa hari berikutnya, saya masih sering nongkrong diteras depan rumah untuk cari gambar makro😀

Belajar Makro